Jumat, 11 Februari 2011

Hirarki Kesabaran-kita

Ada seorang ibu yang memiliki sepasang putra-putri, lalu mengisi
hidupnya hanya dengan kesedihan. Putra tertua kebetulan penjual es
krim keliling. Sementara putri kedua adalah penjual payung.
...
Ketika hari panas, ibu ini menangis untuk putrinya karena teramat
sedikit yang beli payung. Saat hari hujan, ibu ini menangis untuk
putranya karena jarang sekali orang membeli es krim.



Cerita ini hanya pengandaian tentang teramat banyaknya hidup
kekinian yang diwarnai kesedihan. Ada saja alasan yang membuat
kehidupan tergelincir ke dalam kesedihan. Dari bencana, penyakit,
umur tua, hingga kematian. Sehingga jadilah kesedihan semacam hulu
dari sungai kehidupan yang penuh stres, keluhan, penyakit, dan
konflik.

Kegembiraan-kesedihan

Seorang sahabat psikiater pernah bercerita, tidak sedikit rumah
sakit jiwa yang mulai kekurangan tempat. Sejumlah rumah sakit jiwa
bahkan memulangkan pasien yang belum sepenuhnya sembuh, semata- mata
karena ada pasien parah yang lebih membutuhkan.

Kebanyakan orang membenci kesedihan. Mungkin karena berbicara ke
dunia publik, lalu Dalai Lama kerap mengatakan, "Ada yang sama di
antara kita, tidak mau penderitaan, mau kebahagiaan". Dan ini tentu
amat manusiawi. Sedikit manusia yang berani mengatakan, jika mau
menangis janganlah menangis di depan kematian. Menangislah di depan
kelahiran. Sebab semua kelahiran membawa serta penyakit, umur tua,
lalu kematian.

Dengan kata lain, kelahiran sekaligus kehidupan tak bisa menghindar
dari kesedihan. Kesedihan selalu mengikuti langkah kelahiran.
Seberapa kuat manusia berusaha, seberapa perkasa manusia membentengi
diri, kesedihan tetap datang dan datang lagi.

Seperti ayunan bandul, semakin keras dan semakin bernafsu seseorang
dengan kebahagiaan, semakin keras pula kesedihan menggoda. Ini yang
bisa menjelaskan mengapa sejumlah penikmat kebahagiaan secara
berlebihan, lalu digoda kesedihan juga berlebihan. Ini juga yang ada
di balik data WHO jika Amerika Serikat (sebagai salah satu tempat
terbesar di mana kebahagiaan demikian dikejar dan dicari), menjadi
konsumen pil tidur per kapita tertinggi di dunia.

Ada peneliti membandingkan dua negara yang sama-sama mayoritas
beragama Buddha, yaitu Jepang dan Burma. Dari segi materi, Jepang
merupakan sebuah keajaiban dan keunikan. Dibanding Jepang, Burma
secara materi jauh dari layak. Namun dalam fenomena sosial seperti
bunuh diri, perceraian, dan depresi, Jepang jauh lebih tinggi dari
Burma. Seperti berbisik meyakinkan, di mana kebahagiaan materi
berlimpah, di sana kesedihan juga berlimpah.

Seperti sadar realita pendulum seperti itu, banyak pertapa, penekun
meditasi, yogi, sahabat sufi, dan lainnya, mengizinkan pendulum
emosi hanya bergerak dalam ruang terbatas. Saat kebahagiaan datang,
disadari kalau kebahagiaan akan diganti kesedihan. Sehingga nafsu
perayaan berlebihan agak direm. Konsekuensinya, saat kesedihan
berkunjung, ia tidak seberapa menggoda.

Merasa berkecukupan

Kahlil Gibran dalam The Prophet memberi kata-kata indah, saat kita
bercengkerama dengan kebahagiaan di ruang tamu, kesedihan menunggu
di tempat tidur. Dalam pengertian lebih sederhana, manusia serumah
dengan kebahagiaan dan kesedihan. Bagaimana bisa lari jauh atau lama
dari kesedihan yang notabene serumah dengan kita?

Karena itu, sejumlah guru mengajarkan untuk melampaui kebahagiaan-
kesedihan. Dalam bahasa guru jenis ini, kebahagiaan dan kesedihan
hanya permainan bagi jiwa-jiwa yang sedang tumbuh menjadi dewasa.
Pertumbuhan itulah yang memerlukan gerakan kebahagiaan, kesedihan,
kebahagiaan, kesedihan, dan seterusnya.

Namun bagi setiap jiwa yang sudah mulai dewasa, ia akan sadar, kalau
baik kebahagiaan maupun kesedihan memiliki sifat yang sama, tak
pasti dan silih berganti. Bukankah bergantung pada sesuatu yang tak
pasti akan membuat hidup tidak pasti? Lebih dari itu, baik
kebahagiaan dan kesedihan berakar pada hal yang sama, keinginan.
Bila keinginan terpenuhi, kebahagiaan datang berkunjung. Saat
keinginan tidak terpenuhi, kesedihan tamunya.

Dan setiap pejalan kaki ke dalam diri yang jauh tahu, keinginan
(lebih-lebih disertai kemelekatan) adalah ibu penderitaan. Kesadaran
seperti inilah yang membimbing sejumlah orang untuk memasuki wilayah-
wilayah keheningan.

Berbeda dengan kebahagiaan yang lapar akan ini, lapar akan itu;
membandingkan dengan ini dengan itu; ingin lebih dari ini, lebih
dari itu. Keheningan sudah berkecukupan. Seperti burung terbang di
udara, ikan berenang di air, serigala berlari di hutan, matahari
bersinar siang hari, bintang bercahaya di malam hari. Semua
sempurna. Tidak ada yang layak ditambahkan atau dikurangkan.
Penambahan atau pengurangan mungkin bisa membahagiakan. Tetapi,
dalam kebahagiaan, batin tidak sepenuhnya tenang-seimbang, selalu
ada ketakutan digantikan kesedihan.

Dalam kamus orang-orang yang sudah memasuki keheningan, sekaya apa
pun Anda akan tetap miskin tanpa rasa berkecukupan. Semiskin apa pun
Anda, akan tetap kaya kalau hidup berkecukupan. Maka seorang guru
yang telah tercerahkan pernah berucap, "Enlightenment is like the
reflection of the moon in the water. The moon doesn't get wet, the
water is not separated". Pencerahan seperti bayangan bulan di air.
Bulannya tidak basah karena air. Airnya tidak terpecah karena bulan.
Dengan kata lain, inti pencerahan adalah tidak tersentuh. Tidak
marah saat dimaki, tidak sombong tatkala dipuji. Tidak melekat pada
kebahagiaan, tidak menolak kesedihan. Persis seperti bunga padma, di
air tidak basah, di lumpur tidak kotor.

Dan salah satu akar menentukan dari ketidaktersentuhan ini adalah
keberhasilan mendidik diri untuk merasa berkecukupan. Yang tersisa
setelah ini hanya empat "M", mengalir, mengalir, mengalir, dan
mengalir.

smga bermanfaat...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Setelah membaca dunia anto berkata-ku, harap dikomentari ya,, :)